Membersamai Si Pemalu (Bagian 1)

Tulisan ini adalah cuplikan dari buku berjudul “Nurturing The Shy Child” tulisan Barbara G. Markway, Ph.D dan Gregory P. Markway, Ph.D. Tidak hanya bagi anak, orang dewasapun bisa belajar banyak tentang cara mengatasi kecemasan sosial dari buku ini karena tiap individu pasti memiliki tingkat kecemasan sosial tersendiri pada waktu dan tempat tertentu. Secara keseluruhan, buku ini sangat praktikal dan mudah dipahami penjelasannya sehingga dapat menjadi referensi bagi orang tua dalam membersamai anak yang tergolong pemalu. Pada bagian pertama tulisan ini, kita akan mengetahui lebih jauh tentang definisi, spektrum dan penyebab kecemasan sosial.

Apa Itu Kecemasan Sosial?

Kecemasan sosial dapat dialami oleh siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Kecemasan sosial didefinisikan sebagai peningkatan rasa khawatir yang terjadi akibat persepsi seseorang tentang penilaian orang lain akan dirinya.

Spektrum Kecemasan Sosial

Barbara dan Gregory Markway menuliskan lima spektrum kecemasan sosial, yaitu:

  1. Shy but secure & successful. Pada tipe yang pertama, meskipun ada rasa malu, seseorang tetap bisa melakukan tugasnya dengan baik ketika diperlukan. 
  2. Shy but showing some problems. Anak dengan tipe ini cenderung menarik diri ketika dihadapkan pada situasi sosial tertentu. Dengan sejumlah terapi dan dorongan moril, ia akan mampu berprestasi baik.
  3. Specific social anxiety disorder (SAD). Anak merasakan kecemasan sosial pada konteks (waktu/tempat/situasi) tertentu.
  4. Mild to moderate generalized SAD. Anak merasakan kecemasan sosial yang juga diiringi oleh sejumlah gejala fisik secara ringan, misalnya mual, jantung berdebar sedikit lebih kencang, dll.
  5. Severe SAD. Gejala fisik yang mengiringi kecemasan sosial bertambah parah, misal kesulitan bernafas, hilang kesadaran/pingsan, dll.

Apa Penyebab SAD?

Secara umum terdapat dua hal yang menyebabkan SAD. Yang pertama adalah faktor biologis dan yang kedua adalah pengalaman hidup.  

Dalam faktor biologis, beberapa komponen yang menentukan yaitu adanya riwayat keluarga dengan SAD (genetik), kondisi neurobiology (terkait dengan sistem neurotransmitting anak), dan temperamen (karakter bawaan lahir).

Sementara itu, faktor pengalaman hidup dapat dipengaruhi oleh pengalaman traumatis anak, parenting style, dan observational learning (anak melihat hal yang membuatnya merasa cemas akan situasi tertentu).

Selain kedua faktor di atas, SAD dapat terus berlangsung atau bahkan diperparah oleh faktor stress pada individu.

***Bersambung***https://jurnalmama.home.blog/2018/12/20/membersamai-si-pemalu-bagian-2/

3 thoughts on “Membersamai Si Pemalu (Bagian 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s