Homeschooling di San Francisco

Orang tua mana yang tidak peduli dengan pendidikan anaknya. Sebagai keluarga diplomat, tentu saja urusan keluar-masuk sekolah anak sudah menjadi agenda tetap setiap kali kami berpindah tempat. Ketika berdinas di San Francisco, Amerika Serikat, Fahima, anak tertua saya sudah memasuki usia prasekolah. Sebetulnya saya tidak terlalu condong untuk menyekolahkan anak sejak dini. Namun, saya berharap dengan bersekolah Fahima bisa beradaptasi lebih cepat, terutama secara bahasa. Terlebih, dia terlihat cukup pemalu. Maklum saja, sejak usia setahun lebih, dia sudah kami ajak berkelana ke Djerba, sebuah pulau kecil di Tunisia, Afrika Utara. Disana, dia tidak banyak berinteraksi dengan orang lain selain saya dan papanya. Jadi, dengan bersekolah, saya berfikir Fahima bisa lebih sering bersosialisasi dengan kawan sebayanya dan belajar mengekspresikan diri secara lebih terbuka.

Saya pun mulai mencari informasi tentang preschool di sekitar wilayah tempat saya tinggal. Kriterianya adalah yang terjangkau secara jarak dan harga. Karena ketika itu saya sedang hamil, jadi inginnya yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari rumah. Cuaca SF yang hampir selalu sejuk berangin menemani pencarian saya dalam menelurusi blok-blok sekitar tempat kami tinggal. Saya menemukan setidaknya ada tiga preschool yang jaraknya bisa saya tempuh dalam waktu 5-10 menit berjalan kaki. Namun, alangkah kagetnya saya ketika mengetahui biaya sekolah yang harus dikeluarkan yang mencapai $1000/bulan, bahkan lebih! Tidak heran jika San Francisco dikenal sebagai salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Karena tidak ada yang pas di kantong, pilihannya pun jatuh pada homeschooling.

Ada banyak sekali sumber online yang bisa dimanfaatkan orang tua dalam membersamai pendidikan anak-anaknya di rumah. Untuk metode homeschooling, saya tipe yang mengalir secara alami saja. Saya tidak membuat kurikulum khusus yang terinci. Hanya saja, secara garis besar saya tentu punya gambaran apa-apa saja yang ingin saya ajarkan pada Fahima, baik itu terkait keterampilan motorik, kecerdasan kognitif dan emosional, penanaman aqidah dan akhlak, dll. Ketika itu, saya belum tahu secara rinci tentang metode-metode pendidikan anak. Namun secara prinsip, saya pribadi cenderung melebur pendekatan yang ditawarkan dalam Montessori, Waldorf, dan Fitrah Based Education (FBE), dan mengaplikasikan mana-mana yang cocok bagi Fahima. Misalnya, prinsip “Follow the Child” dalam Montessori sejalan dengan prinsip FBE yang mengarahkan orang tua untuk memfasilitasi anak sesuai dengan minat dan bakat anak. Sehingga, seringkali, saya membiarkan Fahima menentukan apa yang sedang ingin ia eksplorasi, sambil saya masukkan hal-hal yang ingin saya ajarkan padanya. Misalnya, dia suka sekali dengan kreasi playdough. Maka sesekali saya manfaatkan untuk membentuk huruf-huruf hijaiyah atau mengenalkan matematika sederhana. Ketika dia sedang ingin menggunting-gunting kertas, maka stimulasi motorik halusnya dilatih sambil kami menggunting pola yang sudah saya buat untuk kelak dimanfaatkan sebagai bahan ajar berikutnya, misal untuk story telling kisah nabi atau untuk kreasi DIY sederhana.

Metode pembelajaran juga sangat dipengaruhi oleh tipe belajar anak: apakah auditori, visual, atau kinestetik. Menurut pengamatan saya, Fahima sejauh ini termasuk tipe semi-kinestetik. Biasanya, dia tidak bisa berdiam terlalu lama dalam satu kegiatan. Maka kombinasi kegiatan terstruktur dan tidak terstruktur cenderung lebih nyaman untuknya. Di awal homeschooling, biasanya saya berikan treatment 15 menit terstruktur dan 15 menit tidak terstruktur, bergantian selama 1 jam. Karena usianya yang ketika itu baru 3 tahun, saya tidak menarget waktu belajar tertentu untuk dia. Yang pasti, saya usahakan di pagi hari kami akan bersama-sama tahsin dan murojaah, baru kemudian kegiatan lain sesuai dengan mood dia saat itu. Tidak jarang, kegiatan harian Fahima berkutat seputar kegiatan domestik saya. Favoritnya adalah mengupas bawang putih dan melipat baju hihi. Saat ini, ketika dia berusia 4,5 tahun, dia sudah bisa mengikuti program terstruktur selama 30 menit, baru kemudian 15 menit free play, dan sudah bisa mengikuti jadwal harian yang kami tentukan bersama.

Ketika di SF, untuk memfasilitasi Fahima dalam bersosialisasi, saya sering mengikutkan ia dalam kegiatan-kegiatan yang diadadakan oleh perpustakaan dekat tempat kami tinggal. Bersyukur sekali karena San Francisco adalah kota yang ramah anak. Fasilitas seperti perpustakaan dan taman bermain gratis tersebar dimana-mana. Banyak juga museum-museum interaktif yang gratis untuk dikunjungi pada hari-hari tertentu.

Selain memanfaatkan fasilitas publik, untuk stimulasi bersosialisasi, kami juga kerap mengajak Fahima ke beberapa kegiatan masyarakat seperti ke pengajian bulanan anak-anak yang diadakan oleh masyarakat Indonesia di Bay Area. Playdate dengan anak-anak sesama staf KJRI juga membantu adaptasi Fahima di lingkungan barunya. Dengan memberikan ruang dan waktu bagi Fahima untuk berproses secara alami dalam bersosialisasi, serta melalui beberapa treatment, perlahan iapun mulai menemukan cara dalam mengekspresikan dirinya secara lebih rileks. Saya pribadi terbantu dengan buku “Nurturing the Shy Child” dalam membersamai Fahima. Kini, Fahima sudah bisa sangat cair menjalin pertemanan di setiap tempat yang ia kunjungi. Alhamdulillah! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s