Perempuan Hebat Itu Bernama Ibu

Rasanya, ketika remaja dulu, tidak pernah terbayangkan betapa besar kelak perubahan hidup saya ketika menjadi ibu. Tidak membekas dalam ingatan ini nasihat-nasihat bagaimana saya harus menjalankan peran sebagai seorang ibu. Barangkali semua berpikir bahwa menjadi ibu adalah sebuah proses alami yang tak perlu diajarkan. Mengalir begitu saja karena seyogianya naluri keibuan ada di diri setiap wanita. Begitu mungkin yang dipercayai oleh orang banyak, setidaknya oleh orangtua saya. 

Saya resmi memulai perjalanan sebagai seorang ibu biologis sekitar lima tahun lalu. Putri pertama saya lahir dini hari dengan proses kelahiran normal spontan, setelah hampir lebih dari 12 jam mengalami kontraksi. Menahan sakitnya kontraksi adalah sebuah perjuangan tersendiri. Lelaki di sekitar saya– ayah, suami, dan kakak, tampak tenang selama perjalanan ke rumah sakit bersalin. Bahkan, suami sempat tertidur di dalam mobil, sementara saya meremas tangannya karena kesakitan. Mungkin mereka tidak dapat membayangkan, betapa dahsyatnya rasa mulas yang wanita alami ketika kontraksi.

Tetapi tidak dengan ibu saya. Meski terlihat tenang, saya dapat membaca gurat kecemasan di dalam wajahnya. Sepanjang perjalanan, tak henti mulutnya berkomat-kamit tanpa suara. Saya yakin, beliau sedang membaca beragam doa, untuk kelancaran persalinan pertama putri semata wayangnya. 

Masuk ke dalam kamar bersalin, ibu tertahan di luar. Hanya suami yang menemani ke dalam. Namun saya tahu, doanya akan terus menemani. Tak banyak kata yang beliau sampaikan ketika kami berpisah. Beliau memang bukan tipe ibu yang suka menyampaikan kasih dan cintanya lewat kata-kata. Sebagai seorang kepala sekolah, mungkin ia terbiasa untuk bersikap tegar, meskipun hatinya bergejolak. 

Tak lama setelah saya masuk ke ruang observasi, terdengar riuh kepanikan dari kamar sebelah. 

 “Cepat! Cepat!”, teriakan instruksi dari seseorang.

Suster berlarian kesana kemari. Nampaknya teriakan tadi berasal dari seorang dokter yang sedang menangani proses kelahiran. Grusak grusuk suara alat-alat yang ditarik berlari, terdengar hingga ke ruangan ku. Lalu, hening sejenak, sebelum terdengar pecah tangis yang memilukan hati. 

Sambil berbaring menahan sakitnya kontraksi yang memasuki bukaan lima, saya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Sayup-sayup terdengar bisik para suster di ruangan. Nampaknya ada yang baru saja kehilangan bayinya. Bayi itu lahir dengan kondisi biru, sudah tidak bernyawa. Sejauh yang terdengar, penyebabnya adalah ketuban yang telah kering dan sang bayi terlambat dilahirkan. Alat pacu jantung dan bantuan pernafasan sudah diberikan. Namun, bayi malang itu tetap tidak tertolong.

Rasa cemas langsung bergelayut di pikiran ku. Bagaimana nasibku nanti? Namun, seketika kontraksi hebat kembali datang menyerang. Mulas yang teramat dahsyat, disertai pinggang yang terasa akan rontok, membuat ku tak berdaya untuk membayangkan apa yang akan terjadi. Saya hanya bisa pasrah. 

Baru pembukaan empat menuju lima saja sudah begini hebat rasa sakitnya. Berapa lama lagi aku harus menahannya?, pikirku. Apa aku mampu?

Tiba-tiba, telinga ku menangkap suara yang sangat tidak asing. 

“Suster, anak saya gak apa-apa ya?” Suara itu terdengar bergetar. Dalam waktu sepersekian detik, ibu sudah ada di hadapanku. Ibu menatapku dengan wajah yang tak biasa. Raut kecemasan tak bisa ia sembunyikan lagi. Ibu merangsek masuk dan menerobos penjagaan suster yang cukup ketat. Aku yakin, kegaduhan yang baru saja terjadi di ruang sebelah, membuatnya tak kuasa menahan diri untuk memastikan keadaanku secara langsung. Lagi-lagi, ibu tak banyak bicara. Dengan senyum yang terkesan sedikit dipaksakan, ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam tasnya. 

“Minumlah ini, rebusan rumput fatimah. Supaya cepat lahir,” katanya. 

Diserahkannya botol itu ke suami saya yang sejak tadi menemani di samping tempat tidur. Ibu tersenyum sebelum kembali hilang dari pandangan. Meskipun singkat, senyumnya kurasakan begitu damai, seolah berkata ‘kamu pasti bisa, Nak!’.

Suamiku membuka tutup botol itu dan meminta ku untuk meminumnya. Sambil meringis kesakitan, aku menggelengkan kepala. Aku pernah membaca sebuah artikel medis yang tidak menyarankan pemberian rumput fatimah untuk melahirkan, terutama ketika masih dalam pembukaan awal. Menurut artikel tersebut, rumput fatimah berfungsi layaknya cairan induksi yang mempercepat pembukaan secara paksa, sehingga dapat membahayakan janin yang belum siap keluar. 

“Minumlah. Sedikiiiiiit saja”, bujuk suamiku. 

Aku terdiam. Di satu sisi, ingin sekali rasanya mempercepat proses kelahiran ini. Andai saja aku punya mesin waktu, sudah pasti akan ku fast-forward fase penuh rasa sakit ini. Namun di sisi lain, aku takut akan risiko yang dapat terjadi jika aku meminum cairan itu. 

“Ayolah. Sedikit saja, kok”, kembali suamiku meminta. 

Meskipun enggan, akhirnya aku putuskan untuk meminum air itu, sambil bermunajat semoga Allah Swt. mencatatnya sebagai bentuk baktiku kepada ibu, yang dengan sebab itu, semoga Allah memudahkan persalinanku. Kuteguk sedikit air itu. Tak cukup lima menit kemudian, datanglah rasa mulas yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Seperti ada badai besar yang mengaduk-aduk perutku dan seluruh isinya. Rasa sakit yang barangkali tak ada kata yang tepat untuk menggambarkannya. Sakit yang begitu hebat, hingga aku berpikir bahwa aku akan mati.

Kembali kuremas tangan suamiku. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Ia terlihat kebingungan harus berbuat apa. Kontraksi yang kini kurasakan terasa semakin dahsyat dan rapat waktunya. Mataku terpejam. Nafasku tersengal-sengal. Wajahku meringis tak karuan. Meskipun AC ruangan terasa cukup dingin, bulir keringat tetap mengalir bercucuran dari sekujur wajahku. Berulang kali lidahku mengucap istighfar dengan lirih. Hampir putus asa, sempat terpikir olehku untuk meminta operasi Caesar saja. Namun, aku teringat salah satu bahasan di dalam buku Prophetic Parenting: jihadnya wanita yang melahirkan sama seperti jihadnya seseorang yang syahid berperang di bulan Ramadhan. MasyaAllah, begitulah Allah memuliakan seorang ibu. Maka, ku teguhkan lagi semangat yang hampir padam ini. Ku atur nafasku semampunya dan berkata dalam hati, Nak, kita sedang berjihad. Ayo, kita pasti bisa!. Ku bayangkan diri ini sedang menunggangi kuda, berjihad bersama Rasulullah Saw. yang mulia. 

Dalam rasa sakit, waktu terasa begitu lambat. Ku lirik jam di dinding, waktu hampir menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Ya Allah, sampai kapan aku harus menahan sakit ini??

Rintihan ku terdengar semakin kencang. Suster datang untuk memeriksa kembali bukaan ku. 

“Sudah bukaan sepuluh!”, ungkapnya. 

Rasa lega menghampiri. Hampir tiba saatnya, Nak. Kata ku dalam hati. Suster membantu ku berpindah dari tempat tidur ke kursi roda. 

Tiba di kamar bersalin, terlihat sejumlah alat bantu medis sudah tersedia. Aku kembali diminta untuk berbaring. 

“Bisa naik kasur sendiri kan, bu?”, tanya salah seorang suster. 

Masih dengan rasa mulas yang sangat hebat, aku berusaha mengangkat panggul yang terasa mau rontok, dan berpindah dari kursi roda ke tempat tidur. Bersyukur, suami masih setia menemani dan membantu semampunya, meskipun di tengah kantuk yang melanda. Hari itu, ia memang lelah sekali setelah seharian merapikan kamar dan merakit kasur bayi untuk menyambut putri pertama kami.

Aku berbaring dengan posisi siap mengejan. Dokter datang menyapaku. Wangi semerbak parfumnya memberikan kesegaran tersendiri untukku yang sudah basah kuyup dengan keringat. 

“Sudah lengkap bukaannya, Bu. Ayo, ngeden!”, katanya. 

Begitu “lampu hijau” tersebut diberikan, segera aku mengejan sekuat tenaga. Alhamdulillah, masih ada sedikit tenaga, karena sebelumnya aku paksakan untuk memakan kurma dan minum sedikit-sedikit setiap kontraksi mereda. 

“Ayo, Bu, rambutnya sudah terlihat tuh!”, kata suster memberi semangat, sambil mendorong pelan perut ku dari atas.

 “Ayo saya bantu, Bu.”, katanya lagi.

Rasa mulas seolah membuatku mengejan sekuatnya secara otomatis, tanpa sempat mengingat berbagai teori yang ku dapat ketika senam hamil. Sepertinya sudah sekitar lima belas menit aku berusaha mengejan. Tiba-tiba, krek, terasa dokter menggunting jalan keluar si bayi. Detik itu pula, terdengarlah suara tangis yang amat dinantikan itu.

“Alhamdulillah!”, lirih suamiku.

Maka resmilah aku menjadi seorang ibu. 

Memulai fase hidup yang tak terbayangkan sebelumnya.

Perjuangan baru di dalam hidup ku.

Dengan amanah besar dari Yang Maha Pencipta.

Yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya.

***

Setelah proses inisiasi dini, bayiku langsung dibawa oleh suster. Meninggalkan ku dan suami di kamar bersalin. Selang beberapa menit kemudian, wajah teduh itu kembali ada di hadapanku. Ibuku, dengan matanya yang basah, tersenyum dan mengucapkan selamat. Kubalas senyumnya. Ingin rasanya aku memeluk Ibu erat-erat, menciumnya, dan mengatakan terima kasih atas perjuangannya dalam melahirkan ku. Namun, kami hanya saling bertatapan, membiarkan hening menyelimuti, dalam rasa haru dan syukur. 

#Writober #RBMIpJakarta #Ibuprofesionaljakarta #Day1 #mulai

2 thoughts on “Perempuan Hebat Itu Bernama Ibu”

Leave a Reply to Mama Fahima Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s