Ketika Anak Protes Uang Jajan Kurang

Ketika kecil, saya pernah protes kepada mama karena uang jajan saya sangat kecil dibandingkan dengan teman-teman sekolah. Waktu itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Mama memberi saya uang jajan sebesar Rp150 perak per hari. Sementara, teman-teman saya rata-rata memiliki uang jajan Rp500, bahkan ada yang Rp1000. Saya protes keras!

“Ma, kok uang jajan ku cuma segini?! Padahal Papa dan Mama kerja. Harusnya uang jajannya bisa lebih besar dari teman yang mamanya nggak kerja dong!”.


Begitu kurang lebih protes saya. Sebuah logika yang masuk akal, bukan? Karena double income, selayaknya saya dapat jatah jajan yang lebih besar.

Saat itu, mama hanya diam. Saya tidak dapat mengingat respon lain dari mama, selain diam. Namun, ketika beranjak dewasa, ada kata-kata mama yang sering diucapkan kepada saya.

“Hidup senang itu nggak perlu dipelajari, Nak. Semua orang bisa hidup senang. Tapi, tidak semua orang bisa bertahan hidup susah.”

Jika saya flashback kembali, rasanya itulah alasan mengapa mama tidak memanjakan saya dengan uang jajan yang besar. Memang, hidup sederhana adalah salah satu prinsip yang ditanamkan mereka kepada kami.

Orang tua saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Kakek dan nenek adalah seorang petambak dan petani di sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan. Masa kanak-kanak mereka tidak dipenuhi dengan beragam mainan, melainkan dengan segudang tanggung jawab untuk membantu orang tua. Menggiling beras, menyiangi sawah, berjualan ke pasar, adalah bagian dari rutinitas hidup mereka sejak kecil. Sekolah mereka pun jauh dari nyaman. Setiap hari keduanya harus berjalan sekitar tiga sampai lima kilometer untuk sampai ke sekolah, melewati pinggiran empang dan sawah yang becek dan kadang disertai ancaman serangan ular atau anjing gila. Begitu terus hingga akhirnya mereka merantau kuliah di Malang, Jawa Timur. Papa mendapatkan beasiswa dari program pemerintah bernama “Supersemar”, yang ditujukan bagi anak veteran perang. Sementara, mama menempuh pendidikan Sarjana Agama atas budi baik pamannya yang adalah seorang Jaksa.

Awal tahun 1990an kami pindah ke Jakarta, setelah sebelumnya merantau di Kalimantan Selatan. Tinggal di Ibu Kota tidak lantas membuat mereka hidup berfoya-foya. Makan hanya dengan nasi hangat dan kelapa parut yang ditaburi garam sudah biasa kami cicipi. Perlahan, perekonomian keluarga kami mulai membaik. Lauk santapan kian bervariasi, dengan sesekali menu sate ayam terhidang.

Alhamdulillah, tahun demi tahun Allah tambahkan rezeki hingga kami mampu secara rutin mengadakan buka puasa bersama yang dihadiri oleh ratusan orang. Kemurahan hati papa dan mama sudah tidak diragukan lagi. Memberi hadiah dan meminjamkan uang kepada yang kesusahan adalah kebiasaan mereka.

Namun, walaupun perekonomian keluarga membaik, gaya hidup kami masih saja sederhana. Uang jajan saya ketika kuliah tetap lebih kecil dibanding kawan-kawan kampus. Baju, sepatu, dan segala peralatan sekolah kami tidak ada yang bermerek. Liburan ke luar negeri tidak pernah menjadi bahasan. Hidup kami jauh dari mall dan tempat hiburan. Silaturahmi ke rumah keluarga adalah agenda utama di akhir pekan.

Begitulah papa dan mama membangun kesederhanaan dalam keluarga kami. Sebuah prinsip hidup yang akan saya teruskan kepada kedua buah hati yang kini mulai sering protes karena tidak diberi uang jajan. Hang in there, Nak. InsyaAllah kalian akan tahu makna dibalik itu semua. Karena sejatinya, kebahagiaan bukanlah terletak pada apa yang kita miliki, namun pada apa yang kita beri. 🙂

Semoga Allah Yang Maha Penyayang menjadikan setiap kebaikan di diri ini sebagai pahala jariyah bagi kedua orang tua kami. Aamiin.

#Writober, #RBMIpJakarta #Ibuprofesionaljakarta #Day2 #Jajan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s