Wanita, Kodratmu Adalah Sumur, Kasur, dan Dapur.

Saya pernah mendengar ada yang mengatakan bahwa fiqih wanita adalah “sumur, kasur, dan dapur”.

Saya mengernyitkan dahi. Batin ini terusik mendengarnya.

Ketika menemani suami berdinas di luar negeri selama 3 tahun, seorang ibu bertanya, “Mba, sekolahnya lulusan apa?” Saya jawab, “S2 di Australia, Bu.” Spontan ibu tadi berkata, “Wah, sayang banget ya!”

Saya hanya diam. Barangkali menurut ibu itu, seorang dengan gelar S2 tidak pantas “hanya” menjadi ibu rumah tangga, mengurusi dua bocah, bergelut dengan kerepotan pekerjaan domestik yang terkesan remeh temeh.

Lalu, saya teringat dengan kalimat yang dulu sering terdengar, “Tidak usahlah perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya ke dapur juga.”

Apa benar perempuan tak boleh punya cita-cita?

Apakah Allah menciptakan perempuan hanya sebagai pendamping, pelengkap, pembantu, objek dari subjek yang bernama lelaki?

Lantas, apakah ketika perempuan berpendidikan tinggi yang memutuskan untuk mendedikasikan dirinya untuk keluarga dianggap memprihatinkan?

Mengapa perempuan selalu dikotak-kotakkan? Satu pihak meng-cluster perempuan hanya di “dapur, sumur, dan kasur”. Pihak yang lain, yang mengaku memperjuangkan emansipasi wanita, menganggap pekerjaan di ranah publik sebagai pilar utama wanita modern.

Mengapa dikotomi itu ada?
Bukankan perempuan berhak membuat pilihan-pilihan bagi dirinya?
Mengapa tidak mendukung semua pilihan itu?

Yang saya tahu, kita mengenal banyak sosok perempuan hebat di dalam Islam yang berkarya baik dari ranah privat maupun ranah publik.

Sebutlah ibunda Khadijah ra yang skill bisnisnya tidak diragukan lagi. Seorang feminis sejati yang tidak gentar bersaing dengan para businessman Arab kala itu, dan tidak malu meminang pria yang ia cintai.

Bagaimana dengan ibunda Aisyah ra yang tersohor dengan kecerdasannya? Atau sosok perempuan hebat di medan perang, mengangkat senjata melawan para opresor, dan mengobati luka para mujahid. Bagaimana dengan Khansa, sahabiyah yang dijuluki sebagai ibunya para syuhada? Yang dengan didikannya berhasil menancapkan keberanian dan keimanan kepada keempat putranya yang syahid di medan perang.

Maka yang saya yakini, apapun pilihannya, berkarya dari ranah privat maupun publik, perempuan tidak boleh berhenti bercita-cita. Allah ciptakan kita dengan misi yang sempurna. Sebagai madrasatul ula, pembangun peradaban paripurna. Semai terus renjana. Biarkan ia membara dan dampingi dengan doa. Karena tak ada amalan yang sia-sia.

#Writober, #RbmIpJakarta #IbuProfesionalJakarta #Day4 #Renjana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s