Pengalaman Berhijab di Negeri Paman Sam

“Welcome to America! We are glad to have you here.”

Ungkap seorang ibu muda yang saya temui di taman, di awal kedatangan ke Amerika Serikat. Secara kebetulan, kami memiliki penyebutan nama yang sama, namun berbeda ejaan: Lia dan Lea (dibaca Lia). Rambutnya pirang, tubuhnya langsing, wajahnya ramah penuh senyum. Ketika itu, dia dan anaknya yang berusia sekitar satu tahun, sedang piknik di taman, di seberang apartemen kami.

Tidak hanya mengucapkan selamat datang, Lea bahkan mengajak saya dan Fahima, putri saya yang ketika itu berusia dua tahun, untuk piknik bersama. Sebuah penyambutan yang sungguh menentramkan hati bagi saya, seorang muslim berhijab, di tengah hiruk-pikuk pemilihan presiden Amerika.

Pada awalnya, saya sungguh takut untuk menginjakkan kaki di negeri Paman Sam itu. Maklum saja, ketika itu, salah satu kandidat presiden AS kerap memakai sentimen anti-Islam dalam kampanye politiknya. Akibatnya, kejahatan berbasis islamophobia meningkat di berbagai wilayah di negara adidaya tersebut. Yang lebih mengerikan, korbannya paling banyak adalah perempuan berhijab. Tentu saja, perempuan memang kerap dianggap sebagai easy target bagi para pelaku kejahatan. Apalagi, hijab dipandang sebagai simbol identitas agama Islam. Sehingga, wanita berhijab adalah sasaran paling pas bagi para islamophobes. Sungguh pengecut!!

Yang membuat ekstra kawatir adalah karena saya tidak ingin putri kecil saya turut jadi korban. Pernah saya membaca berita, seorang wanita berhijab yang sedang hamil tua ditendang perutnya hingga keguguran. Sungguh keji!! Sayapun membayangkan, bagaimana jika Fahima yang disakiti?? Begitu takutnya saya, sampai-sampai sempat terpikir untuk memakai topi rajut khas musim dingin untuk menutupi rambut, sebagai pengganti hijab.

Namun, perlahan saya mencoba untuk menyingkirkan kecemasan yang berlebihan itu, dan mencoba untuk menguatkan kembali prasangka baik saya kepada Allah, Ar Rahman, Ar Rahim. Semakin dekat waktu keberangkatan ke Amerika, semakin saya kokohkan khusnudzon ini. Saya bayangkan perjalanan yang menyenangkan dan kehidupan yang aman dan damai. Saya yakinkan diri ini bahwa Allah hanya akan mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Harus yakin!

Alhamdulillah, ‘ala kulli hal, sambutan hangat Lea diawal kedatangan kami di Amerika, adalah bukti bahwa Allah sungguh adalah sesuai persangkaan hamba-Nya. Sejak itu, keyakinan saya akan perlindungan-Nya semakin menguat. Tapi, tentu saja tetap harus waspada dimana pun berada. Diantaranya, tidak pergi malam-malam sendirian dan menjauhi orang-orang yang terlihat mabuk. Bersyukur, selama dua tahun kami tinggal di Amerika, tidak sekalipun saya merasa terancam dari tindakan islamophobes. Dan sungguh, dalam petualangan saya sebagai istri seorang diplomat, menjelajah dari Afrika ke Amerika, tidak ada bekal yang lebih utama saya siapkan, selain bekal prasangka baik terhadap Nya. Karena Ia adalah Sang Penggenggam Jiwa, Sang Penguasa Semesta.

#writober #IbuProfesionalJakarta #RbmIpJakarta #Takut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s